Sabtu, 12 November 2011

Dari Mata Turun Ke Hati

Matahari telah tergelincir. Seorang lelaki terlihat bersegera menuju masjid ketika adzan zuhur dikumandangkan dari sebuah masjid kampus. Lelaki itu berwudhu dan menunaikan shalat nawafil. Lalu ia menjadi makmum di shaff terdepan. Shalat wajib ia laksanakan dengan ruku’ dan sujud yang sempurna. Setelah shalat tak lupa ia memuji nama Tuhannya dan memanjatkan doa untuk dirinya, ibu, ayahnya dan untuk ummat Muhammad SAW yang sedang berjihad fii sabilillah.

Sebelum menuju kelas untuk kuliah, lelaki itu menyempatkan diri bersalam-salaman dengan beberapa jamaah lain. Dengan raut wajah yang bersahaja, ia sedekahkan senyum terhadap semua orang yang ditemuinya. Ucapan salam pun ditujukannya kepada para akhwat yang ditemuinya di depan masjid.

Lelaki yang bernama Ali itu kemudian segera memasuki ruang kelasnya. Ia duduk di bangkunya dan mengeluarkan buku berjudul “Langitpun Terguncang’. Buku berisi tentang hari akhir itu dibacanya dengan tekun. Sesekali ia mengerutkan dahi dan sesekali ia tersenyum simpul.

Ali sangat suka membaca dan meyukai ilmu Allah yang berhubungan dengan hari akhir karena dengan demikian ia dapat membangkitkan rasa cinta akan kampung akhirat dan tidak terlalu cinta pada dunia. Prinsipnya adalah “Bekerja untuk dunia seakan hidup selamanya dan beribadah untuk akhirat seakan mati esok.”

Sejak setahun belakangan ini, Ali selalu berusaha mencintai akhirat. Sunnah Rasululah SAW ia gigit kuat dengan gigi gerahamnya agar tak terjerumus kepada bid’ah. Ali selalu menyibukkan diri dengan segala Islam. Ia sangat membenci sekularisme karena menurutnya, sekulerisme itu tidak masuk akal. Bukankah ummat Islam mengetahui bahwa yang menciptakan adalah Allah SWT, lalu mengapa mengganti hukum Tuhannya dengan hukum ciptaan dan pandangan manusia? Bukankah yang menciptakan lebih mengetahui keadaan fitrah ciptaannya? Allah SWT yang menciptakan, maka sudah barang tentu segala sesuatunya tak dapat dipisahkan dari hukum Allah. Katakan yang halal itu halal dan yang haram itu haram, karena pengetahuan yang demikian datangnya dari sisi Allah.

Sementara Ali membaca bukunya dengan tekun, dua mahasiswi yang duduk tak jauh dari Ali bercakap-cakap membicarakan Ali. Mereka menyayangkan sekali, Ali yang demikian tampan dan juga pintar, namun belum mempunyai pacar, padahal banyak mahassiwi cantik di kampus ini yang suka padanya. Tapi tampaknya Ali tidak ambil peduli. Sikapnya itu membuat para wanita menjadi penasaran dan justru banyak yang ber-tabarruj di hadapannya. Kedua wanita itu terus bercakap-cakap hingga lupa bahwa mereka telah sampai kepada tahap ghibah.

Ali memang tak mau ambil pusing tentang urusan wanita karena ia yakin jodoh di tangan Allah swt. Namun tampaknya iman Ali kali ini benar-benar diuji oleh Allah SWT.

Ali menutup bukunya ketika dosen telah masuk kelas. Tampaknya sang dosen tak sendirian, di belakangnya ada seorang mahasiswi yang kelihatan malu-malu memasuki ruang kelas dan segera duduk di sebelah Ali. Ali merasa belum pernah melihat gadis ini sebelumnya. Saat dosen mengabsen satu persatu, tahulah Ali bahwa gadis itu bernama Nisa.

Tanpa sengaja Ali memandang Nisa. Jantungnya berdegup keras. Bukan lantaran suka, tapi karena Ali selalu menundukkan pandangan pada semua wanita, sesuai perintah Allah SWT dalam Al Qur’an dan Rasulullah saw dalam hadits. “Astaghfirullah…!”, Ali beristighfar.
Pandangan pertama adalah anugerah atau lampu hijau. Pandangan kedua adalah lampu kuning. Ketiga adalah lampu merah. Ali sangat khawatir bila dari mata turun ke hati karena pandangan mata adalah panah-panah iblis.
***

Pada pertemuan kuliah selanjutnya, Nisa yang sering duduk di sebelah Ali, kian merasa aneh karena Ali tak pernah menatapnya kala berbicara. Ia lalu menanyakan hal itu kepada Utsman, teman dekat Ali. Mendengar penjelasan Utsman, tumbuh rasa kagum Nisa pada Ali. “Aku akan tundukkan pandangan seperti Ali”, tekad Nisa dalam hati.

Hari demi hari Nisa mendekati Ali. Ia banyak bertanya tentang ilmu agama kepada Ali. Karena menganggap Nisa adalah ladang da’wah yang potensial, Ali menanggapi dengan senang hati.

Hari berlalu… tanpa sengaja Ali memandang Nisa. Ada bisikan yang berkata, “Sudahlah pandang saja, toh Nisa itu tidak terlau cantik.. Jadi mana mungkin kamu jatuh hati pada gadis seperti itu” Namun bisikan yang lain muncul, “Tundukkan pandanganmu. Ingat Allah! Cantik atau tidak, dia tetaplah wanita.” Ali gundah. “Kurasa, jika memandang Nisa, tak akan membangkitkan syahwat, jadi mana mungkin mata, pikiran dan hatiku ini berzina.”

Sejak itu, Ali terus menjawab pertanyaan-pertanyaan Nisa tentang agama, tanpa ghadhul bashar karena Ali menganggap Nisa sudah seperti adik… , hanya adik.

Ali dan Nisa kian dekat. Banyak hal yang mereka diskusikan. Masalah ummat maupun masalah agama. Bahkan terlalu dekat…

Hampir setiap hari, Ali dapat dengan bebas memandang Nisa. Hari demi hari, minggu demi minggu, tanpa disadarinya, ia hanya memandang satu wanita, NISA! Kala Nisa tak ada, terasa ada yang hilang. Tak ada teman diskusi agama…, tak ada teman berbicara dengan tawa yang renyah.., tak ada…wanita. DEG!!! Jantung Ali berdebar keras, bukan karena takut melanggar perintah Allah, namun karena ada yang berdesir di dalam hati…karena ia… mencintai Nisa.

Bisikan-bisikan itu datang kembali… “Jangan biarkan perasaan ini tumbuh berkembang. Cegahlah sebisamu! Jangan sampai kamu terjerumus zina hati…! Cintamu bukan karena Allah, tapi karena syahwat semata.”

 Tapi bisikan lain berkata, “Cinta ini indah bukan? Memang indah! Sayang lho jika masa muda dilewatkan dengan ibadah saja. Kapan lagi kamu dapat melewati masa kampus dengan manis. Lagipula jika kamu pacaran kan secara sehat, secara Islami.. ‘Tul nggak!” Ali mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Manalah ada pacaran Islami, bahkan hatimu akan berzina dengan hubungan itu. Matamu juga berzina karena memandangnya dengan syahwat. Hubungan yang halal hanyalah pernikahan. Lain itu tidak!!! Bukankah salah satu tujuan pernikahan adalah untuk mengubur zina?”, bisikan yang pertama terdengar lagi.

Terdengar lagi bisikan yang lain, “Terlalu banyak aturan! Begini zina, begitu zina. Jika langsung menikah, bagaimana bila tidak cocok? Bukankah harus ada penjajakan dulu agar saling mengenal! Apatah lagi kamu baru kuliah tingkat satu. Nikah susah!” 

Terdengar bantahan, “Benci karena Allah, cinta karena Allah. Jika pernikahanmu karena Allah, Insya Allah, Dia akan ridho padamu, dan akan sakinah keluargamu. Percayalah pada Tuhan penciptamu! Allah telah tentukan jodohmu. Contohlah Rasululah SAW, hubungan beliau dengan wanita hanya pernikahan.”

Bisikan lain berkata. “Bla.., bla.., Ali,… masa muda.., masa muda…, jangan sampai dilewatkan, sayang lho!”
Ali berpikir keras. Kali ini imannya benar-benar dilanda godaan hebat. Syetan telah berhasil membujuknya dengan perangkapnya yang selalu sukses sepanjang zaman, yaitu wanita.

Ali mengangkat gagang telepon. Jari-jarinya bergetar menekan nomor telepon Nisa. “Aah.., aku tidak berani.” Ali menutup telepon.

Bisikan itu datang lagi, “Menyatakannya, lewat surat saja, supaya romantis…!” “Aha! Benar! “ Ali mengambil selembar kertas dan menuliskan isi hatinya. Ia berencana akan menitipkannya pada teman dekat Nisa. Jantung Ali berdebar ketika dari kejauhan ia melihat Nisa terlihat menerima surat dari temannya dan membaca surat itu.
***

Esoknya, Utsman mengantarkan surat balasan dari Nisa untuk Ali, sembari berkata, “Nisa hari ini sudah pakai jilbab, dia jadi cantik lho. Sudah jadi akhwat!” Ali terkejut mendengarnya, namun rasa penasarannya membuatnya lebih memilih untuk membaca surat itu terlebih dahulu daripada merenungi ucapan Ustman tadi. Ali membaca surat itu dengan sungguh-sungguh.

Ia benar-benar tak menyangka akan penolakan yang bersahaja namun cukup membuatnya merasa ditampar keras. Nisa menuliskan beberapa ayat dari Al Qur’an, isinya :

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman : Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An Nuur : 30)

“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.”(QS. Al Mu’minuun : 19).

Ali menghela nafas panjang… Astaghfirullah… Astaghfirullah… Hanya ucapan istighfar yang keluar dari bibirnya. Pandangan khianatku sungguh terlarang. Memandang wanita yang bukan muhrim. Ya Allah… kami dengar dan kami taat. Astaghfirullah…

(Judul asli : Kala Iman Tergoda. Dengan revisi. Pernah diterbitkan di Bulletin Biru SMUNSA Bogor No. 01/I/23 Shafar 1421 H)

Repost : http://www.akhwatmuslimah.com/2011/06/230/dari-mata-turun-ke-hati-2/

Rabu, 26 Oktober 2011

Konsisten Itu Susah Ya?

Susah ya buat konsisten?

Gampang? Susah? Gampang-gampang susah?

Nah loh, yang konsisten dong jawabnya, hehe. . .

Tapi sebelumnya, tahu kan artinya konsisten? Definisi konsisten menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia itu


Konsisten : tetap, selaras, sesuai; mis. perbuatan hendaknya sesuai dengan ucapan berarti kalo konsistensi ya ketetapan, keselarasan, kesesuaian.


Akhir-akhir ini banyak orang yang saya temui mulai kehilangan konsistensi mereka. Ibaratnya apa yang dulu mereka bangun sebagai batas akhirnya mereka rusak sendiri. Hilang konsistensi mereka terhadap apa yang mereka ciptakan sendiri. Dan saya, sebagai seorang yang sedang mencoba untuk konsisten meneladani mereka, merasa harus mengkhianati prinsip saya sendiri dengan tidak konsisten dan berhenti meneladani mereka. Mungkin prinsipnya yang harus diganti biar niat saya untuk 'konsisten' tetap dengan ke'konsisten'annya. Prinsip yang tadinya "Meneladani si A, si B, si C" harus diubah menjadi "Meneladani yang benar jalannya". Memang kalau bicara teladan paling baik pastilah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam, tapi di samping itu kan boleh kita meneladani orang-orang yang dianggap baik di sekitar kita. Nah disitulah area bahasan saya kali ini.


Banyak orang baik yang saya temui, banyak hal baik yang mereka ajarkan kepada saya. Sadar tidak sadar, setiap mereka yang saya temui turut andil dalam perubahan diri saya yang tujuannya menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih baik lagi. Dari sekian banyak orang, ada beberapa yang menurut saya kepribadian mereka bisa saya contoh, prinsip-prinsip mereka, perilaku mereka menurut saya memang terpuji. Tapi yang namanya hati manusia itu mudah dibolak-balikkan, kadang ada kalanya mereka berbuat salah juga. Yang dulu mereka bilang sama saya, walaupun tersirat, "kamu jangan berbuat ini ya", akhirnya ketahuan juga mereka melakukan 'ini' tersebut. Di situlah yang saya bilang letak ketidak-konsisten-an mereka. Yah namanya juga manusia biasa, wajar kalau ada lupa, khilaf, salah.


Bukannya saya menuntut orang baik untuk selalu berbuat baik, bukannya saya menuntut mereka sebagai teladan tidak boleh berbuat salah. Lagian mereka juga sama sekali nggak tau kalau saya selama ini ngikutin mereka. Cuma anehnya ketidak-konsisten-an ini kenapa berjamaah? Saat saya lihat satu orang mulai tidak konsisten dengan ucapannya, sebutlah mas A, seperti sebuah kebetulan beruntun, mas B juga mulai berbuat yang nggak sesuai sama yang sudah diajarkan, terus mbak C juga setelah lama tidak berjumpa ternyata setelah dijumpai sudah tidak terlalu sama dengan mbak C yang dulu.


"Rasanya seperti pindah duduk dari lesehan ke kursi karena nasehat mereka-mereka tentang masuk angin lah, kotor lah, kuman lah, tapi setelah saya nurut dan duduk di kursi, tiba-tiba mereka ninggalin saya gitu aja dan malah kembali duduk lesehan".


Saya mencoba tidak su'uzon, mungkin ada alasan kuat mereka kembali duduk lesehan, dan sesegera mungkin saya harap mereka kembali duduk di kursi.


Lain cerita, masih cerita salah satu dari orang-orang yang saya temui. Kali ini ketidak-konsisten-an saya temui di antara harapan dan perbuatan. Mungkin akan lebih mudah dipahami kalau saya buat analoginya:


Anggaplah seorang murid, selalu mengeluh kepada gurunya kalau nilainya jelek. Dan pak guru selalu bilang belajarlah, membacalah, latihan soal lah. Si murid senang dapat kunci jadi juara kelas, ternyata cuma belajar, membaca, latihan. Tapi, selesai ulangan berikutnya, si murid datang lagi dan mengeluhkan hal yang sama "Pak, nilai saya jelek". Setelah ditanya "Kamu belajar, kamu membaca, kamu latihan?". Jawabnya "Enggak pak.".


See, ibaratnya seperti itu. Merasa berat untuk melakukan hal baik, tapi sangat berharap hal baik datang kepadanya. Memang ada sesuatu yang namanya 'keberuntungan', tapi ingatlah bahwa ALLAH Maha Tahu, ALLAH Tahu mana hambaNYA yang benar-benar berusaha atau cuma speak doang. Dan kita sebagai murid nggak bisa selamanya sok innocent bilang kalo pak guru belum pernah nyuruh saya belajar, membaca, dan latihan, jadi wajar kalo nilai saya jelek.


Segala hal yang kita dapat sesuai dengan usaha yang kita buat. Segala hal yang kita lakukan akan mendapat balasan yang setimpal. Jangan minta bisa kalau nggak mau mencoba, jangan minta pinter kalau nggak mau belajar, jangan minta disenyumin kalau nggak mau senyum duluan, jangan minta ditolong kalau nggak mau menolong, jangan minta didengarkan kalau nggak mau mendengarkan.


Tentang konsisten dan ke-konsisten-an saya sendiri juga masih belajar. Baik sadar ataupun tidak sadar saya pun masih sering lepas dari ke-konsisten-an itu sendiri. Dan dengan tulisan ini bukannya saya mau menghakimi, tapi hanya ingin mengingatkan termasuk mengingatkan diri saya sendiri.

^_____^

Selasa, 11 Oktober 2011

Semoga Disampaikan Kepadamu

Kamu, meskipun lebih memilihku di awalnya, tapi tetap memberikan perhatianmu kepadanya di akhirnya.
Hanya gara-gara dia seseorang yang selalu mengungkapkan perasaannya, dan entah apalah lagi yang sudah dia ungkapkan dan tuliskan kepadamu.

Menurutku ini tidak adil !

Kamu kan yang selalu bilang "Cintailah karena ALLAH".
Dan cinta yang bersumber dari-NYA, haruslah kembali pada-NYA
Dengan cara yang telah disyariatkan-NYA

Dalam harap
Dalam diam
Dalam doa

Bukankah kamu tahu bagaimana caraku mencintaimu.
Bukankah memang itu yang seharusnya aku lakukan.
Tanpa kata cinta sebelum hak-nya
Tanpa pengungkapan sebelum akad-nya
Tanpa perhatian berlebih sebelum halal-nya

Menurutku ini tidak adil !

Ketika kamu jatuh dan merasa dia yang selalu ada memegangmu dengan tangannya
Kamu melupakan aku yang selalu memegangmu dengan doaku
Ketika kamu merasa kalah oleh dunia dan kamu bangkit karena semangatnya yang selalu dia suratkan kepadamu
kamu melupakan semangat dariku yang kutitipkan kepada-NYA

Bukan sms setiap hari, telepon setiap malam yang bisa aku berikan kepadamu untuk membuktikan cintaku dan rinduku, tapi rindu dan cintaku selalu kutitipkan kepada-NYA untuk disampaikan kepadamu.
Mungkin disampaikan oleh-NYA, tapi nasibnya hanya seperti surat yang diselipkan di bawah pintu, tertendang kaki-kaki yang masuk untuk menyampaikan surat mereka langsung kepadamu.

Atau mungkin ALLAH memang tidak berkenan untuk menyampaikannya kepadamu. :'(

"ALLAH tidak menjadikan dua hati dalam satu rongga" (QS. Al-Ahzab : 4)
Tidak mungkin seseorang mencintai hak sekaligus mencintai kebatilan.





Astagfirullahaladzim, Ya ALLAH mungkin caraku mencintainya pun belum sepenuhnya sesuai syariatMU, jagalah kami dan lindungilah kami agar selalu berada di jalanMU.
Pertemukanlah kami dalam agamaMU, dalam berkahMU, dalam cintaMU.
Mudahkanlah jalan kami menuju kebaikan yang telah Engkau janjikan.

Aku mohon, jaga dirimu, jaga kesucianmu seperti aku menjaga diriku dan kesucianku yang teramat sangat kuharapkan bisa kupersembahkan untukmu, sebagai seseorang yang hingga saat ini kuanggap adalah orang yang terbaik yang bisa menjadi pendidik mujahid dan mujahidahku kelak.

Ya ALLAH, Engkaulah Yang Maha Mengetahui apa yang menjadi kehendak ku, semoga inilah yang baik untukku, untuk agamaku, dan untuk masa depanku, semoga Engkau memberkahi, meridhoi, dan mewujudkannya. Aamiin.

Kutitipkan rindu dan cintaku kepadaNYA, mohon pintalah kepadaNYA agar disampaikan kepadamu.
Kutitipkan rindu dan cintaku kepadaNYA untuk disampaikan kepadamu.